Oleh: Sahila Triski Wardani (Mahasiswa STEI SEBI)

Berikan aku sepuluh pemuda dan akan ku goncang dunia!”,  sebuah ungkapan yang terlontar dari lisan bapak proklamator kita. Sebuah ungkapan yang tentu tidak asing di telinga siapa saja pengagum Bung Karno dan para aktivis kepemudaan.

Sebuah ungkapan yang menjadi magnet bagi siapa saja yang jiwanya penuh gairah masa muda. Pemuda memang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang yang telah masuk usia paruh baya. Seperti nyanyian Bung Rhoma Irama, pemuda memiliki surplus semangat yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli. Tapi memang begitulah karakter darah muda.

Siapa yang bisa masuk kategori pemuda? Kalau kita liat arti kata pemuda adalah orang muda, remaja,  teruna. Sedangkan muda diartikan sebagai “belum sampai setengah umur”, dan “belum sampai waktunya dipetik”.

Frase “belum sampai waktunya dipetik” bisa memiiki beberapa penafsiran, diantaranya:

  • Belum siap dipetik, seperti buah,
  • atau belum waktunya gugur, seperti dedaunan.

Setidaknya ada dua hal yang bisa kita maknai dari tafsiran di atas. Pertama, seperti buah, sesuatu yang belum bisa dipetik, menggambarkan seolah pemuda bukanlah masa di mana kita bisa berkontribusi. Padahal semestinya tidak demikian.

Yang kedua, justru masa muda adalah masa di mana kita bisa berkontribusi lebih maksimal, seperti daun yang masih hijau dan rindang. Ketika fisik masih prima, waktu luang masih banyak tersedia, dan beban kehidupan tak seberat orang-orang dewasa dengan kompleksitas kehidupannya, mestinya para pemuda bisa berlari lebih cepat dan melompat lebih tinggi.

Kalau kita mengacu kepada batasan yang diberikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, pemuda adalah orang yang berusia di bawah 40 tahun. Nah, kita liat tidak sedikit pemuda yang berkarya dan penuh prestasi, bahkan pada usia di bawah 30 tahun.

Malaysia saat ini dipimpin oleh Mahatir yang usianya sudah lewat 90 tahun, namun tidak sedikit anggota kabinetnya yang berusia pertengahan 20-an. Tengoklah Timnas Prancis yang baru saja berhasil merebut tropi di ajang Piala Dunia 2018, dengan skuad paling muda di antara tim dari negara-negara lain.

Sejarah juga membuktikan pentingnya peran para pemuda. Kemerdekaan Indonesia digerakkan dan diwujudkan justru oleh militansi para pemuda yang sepertinya matang sebelum waktunya. Soekarno dan teman-temannya seperti buah yang matang lebih cepat dari waktunya di tangan seorang mentor sekelas H.O.S. Tjokroaminoto.

Generasi milenial dan post-milenial memang memiliki tantangan tersendiri, di mana umumnya mereka tidak mengalami peristiwa pahit seperti konflik perang, dan cenderung hidup dalam jebakan instant gratification. Namun hal ini tidak menjadi alasan para pemuda jaman now untuk minim karya dan prestasi.

Hal penting yang mesti dipahami para pemuda sejak dini, adalah perpotongan antara minat, bakat, dan impact. Mengenal minat berarti tau apa yang ingin dicapai dan di mana passion kita. Memahami bakat adalah bagaimana mengetahui skill apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik dari orang lain pada umumnya. Impact adalah seberapa besar kombinasi minat dan bakat memberikan hasil, entah itu kontribusi pada pendapatan, kebahagiaan, maupun pada kemanusiaan.

Pemuda dengan segala kesegaran fisik, jiwa dan pikiraannya yang penuh curiousity, seharusnya bisa mengambil peran yang signifikan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul di sekitarnya saat ini. Juga kemampuan untuk mengantisipasi masalah yang kemungkinan muncul di masa depan.

Yuk para pemuda, raih prestasi dan berkaryalah tanpa henti, karena batas kemampuanmu adalah pikiranmu sendiri. Jangan sia-siakan waktu muda yang penuh kesegaran, hingga tiba waktumu “dipetik”, lalu menyesal, sembari berujar lirih, “Ah, andai dulu aku begitu dan begini…”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here